|
Entikong, Sanggau, Petugas Pengamanan Perbatasan Gabungan Malaysia Batalyon Infanteri 642/Kapuas, menyatakan kesiapannya untuk mengamankan wilayah perbatasan Indonesia - Malaysia di Kalimantan Barat sepanjang 875 kilometer.
"Pengamanan wilayah tapal batas khususnya perbatasan di Kalimantan Barat memang harus dilakukan secara menyeluruh, baik secara politik, Hankam, ekonomi maupun sosial budaya," kata Pasi Intel Pamtas Gabma Yonif 642/Kapuas, Kapten (Inf) Y Eko Purwanto di Entikong, Kabupaten Sanggau, Senin.
Menurut ia, di Kalbar terdapat 29 Pos Pamtas, dua di antaranya berada di wilayah Malaysia, tepatnya di Lubok Antu dan Biawak.
"Sedangkan untuk Pamtas TNI Gabma di Entikong sendiri diperkuat satu kompi dengan personel 650 anggota, yang rutin melakukan patroli gabungan bersama Tentara Diraja Malaysia (TDRM) untuk mengecek tapal batas secara bersama-sama," kata Eko.
Sejauh ini tidak ditemukan adanya pergeseran patok batas atau pun hilang. Semuanya tetap berada pada posisi dan koordinat yang sudah ada. "Jadi kita melakukan pengecekan patok batas cukup menggunakan GPS disesuaikan dengan koordinatnya," katanya.
Jumlah patok batas yang harus diawasi mencapai 1.400 patok. Model tipe D, model tipe itu jarak satu patok dengan yang lainnya sekitar 100 Meter. "Jadi di wilayah perbatasan ini ada berbagai jenis patok yang dipasang. Untuk tipe A jaraknya mencapai 500 meter antara patok. Daerah perbatasan cukup luas mencapai 875 kilometer yang harus diawasi terus. Jika tidak maka keutuhan NKRI bisa terancam," katanya.
Selain melakukan pengawasan dan pengamanan patok batas, petugas juga memberikan pemahaman kepada warga perbatasan sikap bela negara dan cinta tanah air, dengan program Bimbingan teritorial masyarakat (Bintermas).
Pembinaan kepada masyarakat perbatasan sangat perlu dilakukan, mengingat mereka yang bersinggungan langsung dan berinteraksi dengan negara tetangga (Malaysia), baik dalam hal berniaga, perkawinan dan adat istiadat yang memang hampir mirip bahkan dari segi bahasa daerahnya juga sama, kata Eko lagi.
Ia mengakui untuk wilayah perbatasan memang rentan terancam semangat nasionalism. Karena "digempur" oleh produk Malaysia baik itu elektronik, produk makanan maupun gaya hidup. Sedangkan satu sisi pembangunan di kawasan tapal batas kerap tidak merata, bahkan infrastruktur juga minim sekali.
Namun begitu, menurut ia, semangat nasionalis di daerah perbatasan Entikong baik di Lini I dan II tidak perlu diragukan lagi. Mereka tetap cinta NKRI hal tersebut telah di buktikan ketika melakukan patroli di kawasan tapal batas. "Kebanyakan warga perbatasan memang berinteraksi ke Malaysia namun mereka tetap cinta tanah air," katanya.
Eksodus
Mengenai Isu adanya warga perbatasan yang eksodus ke negeri jiran untuk memperbaiki kehidupannya Pasi Intel Pamtas Gapma Eko membantah hal itu.
"Pengertian eksodus di sini bukan lantaran ingin pindah negara melainkan karena adanya ikatan perkawinan," katanya.
Ia mengingatkan agar media tidak berasumsi bahwa adanya warga yang eksodus pindah kewarganegaraan. Hasil pemantauannya dengan Muspika, tokoh adat dan kepala desa di perbatasan, kebanyakan warga seperti di Badat lama maupun di Badat Baru, dan di Suruh Tembawang, menikah dengan warga Malaysia.
"Sehingga harus ikut dengan suami. Kadang juga membawa sanak famili ke Malaysia untuk bekerja," katanya.
Di tempat terpisah, Kepala Desa Suruh Tembawang, Imran Manuk membenarkan jika banyak warga perbatasan yang menikah dengan warga Malaysia dan menetap di sana. Seandainya mereka tidak menikah belum tentu pindah ke seberang.
"Sebab tidak semudah itu untuk menjadi warga negara Malaysia, memang pada masa dahulu jauh sebelum adanya PPLB Entikong warga banyak yang eksodus dan pindah menjadi warga Malaysia. Namun sekarang semenjak informasi dan pemerintah mulai memperhatikan daerah tapal batas hal tersebut tidak terjadi lagi," katanya.
Sumber : Antara
Kembali
|