1. Latar belakang.
a. Sidang Istimewa (SI) MPR 1998
merupakan sarana konstitusional untuk menetapkan berbagai perubahan
dalam rangka reformasi. Untuk itu SI MPR 1998 tidak boleh gagal.
b. Sebagian mesyarakat
menentang SI MPR 1998 karena dianggap sebagai upaya mempertahankan
status qou.
c. Menhankam/Pangab memerintahkan ABRI untuk melaksanakan
pengamanan SI MPR 1998 secara optimal.
2. Kronologi Peristiwa.
a. Tanggal 11 November 1998 siang, gerakan
mahasiswa dan massa berbagai poros menumpuk di Semanggi sehingga
berjumlah puluhan ribu. Didalamnya termasuk para provokator dan
LSM koalisi Nasional.
b. Pukul 15.15 WIB suasana makin memanas,
massa mulai melempari petugas PHH dengan batu, kayu dan botol berisi
air seni.
c. Pukul 16.10 WIB massa semakin brutal sehingga
petugas terpaksa menggunakan kendaraan pemadam kebakaran untuk menyemprotkan
air ke arah massa. Massa berhasil dipaksa mundur.
d. Pada bagian lain, massa yang bergerak secara
brutal, memaksa pasukan PHH melepaskan tembakan gas air mata dan
tembakan peringatan dengan peluru hampa untuk membubarkan pengunjuk
rasa.
e. Semakin lama insiden semakin meningkat
keras, bahkan massa kerap kali melempari petugas dengan batu, botol
dan bom molotov yang dapat mengancam jiwa pasukan PHH. Kejadian
terus berlangsung hingga pukul 24.00 WIB dan menimbulkan banyak
korban di kedua belah pihak.
f. Menhankam/Pangab sangat menyesalkan terjadinya
bentrokan ini dan selanjutnya memerintahkan Komandan Puspom untuk
melakukan pengusutan terhadap beberapa prajurit ABRI yang diduga
terlibat dalam bentrok kekerasan dengan mahasiswa yang melakukan
unjuk rasa di Semanggi.
g. Akibat kerusuhan telah menimbulkan korban
meninggal dunia 5 orang mahasiswa dan 3 orang warga masyarakat serta
226 orang luka-luka.
3. Proses hukum
a. Dalam kaitan dengan penembakan,
telah dilakukan pendataan nomor dan nama pemegang senjata
dari pasukan PHH yang bertugas di kawasan Semanggi pada
saat kejadian. Selanjutnya terhadap 361 pucuk senjata
M-16 A 1 dan 567 pucuk senjata SS-1 dilakukan uji balistik
untuk mencocokkan dengan anak peluru, sedangkan uji metalurgi
untuk mencocokkan serpihan peluru bukti.
b. Identifikasi tersangka penembakan
belum dapat dilakukan karena uji balistik dan uji metalurgi
belum dapat menunjukkan senjata mana yang menembakkan
anak peluru bukti.
c. Kepada 164 personil ABRI yang
terbukti melakukan pelanggaran disiplin tembakan, telah
dijatuhi hukuman disiplin oleh atasan yang berhak menghukum
(Ankum) masing-masing.
d. Penyelesaian peristiwa Semanggi
selanjutnya akan sangat tergantung kepada dapat atau tidaknya
ditemukannya senjata api yang menembakkan anak peluru
bukti.
e. Dari korban yang tewas, hanya
didapatkan 5 serpihan peluru yang tidak dapat diperiksa
melalui uji balistik, sedangkan satu-satunya anak peluru
bukti yang utuh (40%) didapatkan dari korban Rinanto yang
tempat meninggalnya tidak diketahui secara pasti.
-
Tiba-tiba ribuan gelombang
massa tak terkendali dan brutal masuk menduduki Gedung MPR-RI
dimana hampir seluruh pejabat negara dan wakil rakyat ada
disitu.
…. Indonesia tidak punya pemerintahan
lagi karena diambil alih massa tidak jelas ….
Dapat dibayangkan bagaimana tragisnya
bagi kita apabila itu terjadi. TNI dan Polri merasa terpanggil
untuk mencegah skenario buruk ini dan telah bertindak
tegas dengan resiko tidak populer. Itulah taruhan bangsa
peristiwa semanggi".
(Mudah-mudahan dipahami oleh semua pihak
yang mencintai negara ini.)
f. Para saksi
mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan massa pengunjuk
rasa dengan berbagai alasan tidak hadir dalam pemeriksaan.
g. Hal-hal diatas yang menyebabkan
penyelesaian peristiwa Semanggi baru pada tahap penindakan
terhadap mereka yang telah melanggar disiplin tembakan
selama bertugas di tempat kejadian perkara. Sedangkan
peristiwa penembakan yang menyebabkan meninggalnya 8 orang
mahasiswa dan massa pengunjuk rasa belum cukup bukti untuk
diadakan penuntutan dan persidangan.
h. Pemeriksaan akan terus dilakukan
baik mencari alat bukti senjata maupun bukti-bukti lainnya
sehingga dapat diketahui penembak yang sebenarnya.
4. Kesimpulan.
a. Peristiwa ini berawal dari
upaya mahasiswa dan massa untuk menerobos aparat
keamanan menuju gedung DPR/MPR guna menggagalkan
SI MPR 1998. Dilain pihak aparat keamanan berkewajiban
mengamankan pelaksanaan SI MPR 1998 yang mempunyai
arti sangat penting dan strategis bagi kelangsungan
hidup bangsa dan negara.
b. Pemeriksaan uji balistik
terus dilakukan untuk membuktikan pelaku penembakan,
walaupun dalam situasi yang sulit menemukan bukti
dan saksi.
c. TNI dan Polri menghargai
dan mengharapkan bantuan masyarakat dalam upaya
penyelesaian tuntas peristiwa ini.
|